Lembang, Bandung Barat
Blog
3 November 2026 · 2 menit baca
Pendidikan

Mengapa Jurusan Soshum Masih Dianggap Tabu oleh Orang Tua SMA?

Aldian Hudaya
Ketika masa-masa penjurusan SMA atau pendaftaran kuliah tiba, sebuah fenomena klasik kerap terulang di banyak rumah tangga Indonesia: kekhawatiran orang tua ketika anaknya ingin memilih rumpun Sosial dan Humaniora (Soshum) ketimbang Sains dan Teknologi (Saintek). Banyak orang tua yang secara terang-terangan melarang atau memandang sebelah mata jurusan-jurusan seperti Sosiologi, Filsafat, Sastra, atau Ilmu Politik. Namun, dari mana akar dogma ini berasal? Apakah pandangan ini masih relevan? Mari kita bedah alasannya.

1. Mitos "Masa Depan Suram" & Lapangan Kerja yang Terbatas

Mitos paling umum yang diyakini generasi tua adalah bahwa anak lulusan Saintek (seperti Kedokteran atau Teknik) memiliki jalan karir yang pasti, sementara lulusan Soshum dianggap bakal kesulitan mencari kerja. Faktanya: Di era modern, anggapan ini makin tidak relevan. Lulusan Saintek pun belum tentu menjamin langsung mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki adaptability yang baik. Dunia kerja saat ini justru membutuhkan soft skills kritis dari lulusan Soshum: critical thinking, kemampuan analisis data sosial, komunikasi empatik, dan pemahaman perilaku manusia—keterampilan yang sangat dicari di industri teknologi modern (seperti UX Research, Product Management, hingga Data Analysis).

2. Peta Politik Pendidikan Orde Baru dan Stratifikasi Kelas

Secara historis, stigmatisasi Soshum sebagai "jurusan kelas dua" merupakan produk dari stratifikasi pendidikan era Orde Baru. Pada masa pembangunan nasional zaman Orde Baru, pemerintah sangat memprioritaskan pembangunan fisik dan infrastruktur. Akibatnya, siswa yang masuk ke jurusan IPA diagungkan sebagai "anak pintar" yang diproyeksikan menjadi teknokrat dan insinyur. Sementara jurusan IPS diwacanakan sebagai tempat penampungan siswa yang kurang berprestasi akademis. Generasi orang tua kita tumbuh dalam ekosistem kultural ini, sehingga persepsi prestise tersebut terbawa dan terpatri hingga hari ini.

3. "Ketakutan" terhadap Daya Kritis Ilmu Sosial

Ada teori menarik yang sering dibicarakan di kalangan akademisi: ilmu sosial mengajarkan orang untuk bersikap kritis terhadap struktur kekuasaan dan ketimpangan sosial. Ilmu Soshum membedah bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana propaganda bekerja, dan mengapa ketidakadilan bisa terjadi. Seseorang yang memahami ilmu sosiologi dan politik tidak akan mudah ditipu oleh narasi politik atau kebijakan pemerintah yang cacat. Kekritisan inilah yang secara historis sering dianggap "membahayakan" atau "membuat hidup susah" oleh generasi tua yang cenderung menginginkan anak-anak mereka hidup aman di jalur konvensional.

Kesimpulan: Saatnya Membuka Pikiran

Memilih Soshum bukanlah keputusan mundur, melainkan langkah strategis di dunia yang semakin kompleks. Kompleksitas peradaban manusia tidak hanya diselesaikan dengan rumus fisika atau baris kode komputer, tetapi juga pemahaman mendalam tentang manusia itu sendiri. Bagi kamu yang saat ini sedang berjuang meyakinkan orang tua untuk memilih jurusan Soshum: berikan bukti bahwa dunia telah berubah, dan pemikir sosial yang kritis adalah salah satu aset terpenting bagi masa depan.
Bagikan tulisan ini: